"Tidak ada pertukaran data tanpa jaringan telekomunikasi. Tidak ada transfer data yang terjadi. Tidak ada data yang bisa dikumpulkan oleh cloud kalau jaringan telekomunikasi tidak bekerja dengan baik," ujar Nezar.
Menurutnya, jaringan telekomunikasi adalah infrastruktur dasar dalam rantai pasok AI, sejajar dengan listrik, energi, dan air. Karena itu pemerintah mendorong penguatan jaringan broadband dan 5G: 5G dinilai paling tepat untuk AI karena latensinya lebih rendah, sehingga komputasi dan pengambilan keputusan bisa berjalan lebih cepat.
Di sisi harga, pemerintah menargetkan internet 100 Mbps dengan biaya lebih murah agar penetrasi ke rumah tangga semakin masif. Nezar menyebut tarif fixed broadband Indonesia rata-rata Rp300 ribu per bulan, lebih tinggi dibanding India yang berkisar US$5–10.
Target adopsi 5G juga dipatok naik: dari saat ini di bawah 10 persen menjadi sekitar 30–40 persen dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Nezar memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia bisa mencapai US$366 miliar pada 2030, dari total potensi pasar ASEAN US$1 triliun.
Buat pengguna, pesannya sederhana: AI secanggih apa pun tetap butuh jaringan yang cepat, stabil, dan murah. Dan itu, kata Nezar, urutannya infrastruktur dulu.



