Angka-angka itu membaik di hampir semua sisi. Titik panas turun dari 943 menjadi 379, titik api dari 263 menjadi 171, dan luas yang belum padam dari 577 hektare menjadi 253 hektare. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan perkembangan itu pada Senin, 2 November 2026.
BNPB bersama BMKG menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah tersebut, dengan 58 pesawat dan helikopter dikerahkan untuk water bombing dan OMC. Pemantauan udara pada 31 Oktober oleh Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi dan Kepala BMKG Teuku Faisal masih menemukan asap dan titik api di Kabupaten Merauke.
BNPB menegaskan angka-angka tersebut berasal dari pemantauan geospasial dan masih memerlukan verifikasi di lapangan, sehingga bisa berubah.
Secara nasional, BMKG memetakan risiko kebakaran tertinggi pada 31 Oktober hingga 6 November di sebagian Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung; Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur; serta Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Tengah, jumlah situs high-confidence naik dari 12 menjadi 15, dan kebakaran gambut yang menyala di bawah permukaan sulit dipadamkan. Kementerian Kehutanan mencatat 61 pesawat dikerahkan secara nasional, dan BMKG menyebut belum ada asap lintas batas.
Insiden lokal pada 1 November ikut tercatat. Di Alas Roban, Batang, Jawa Tengah, sekitar 3 hektare hutan jati terbakar dan padam sekitar pukul 22.30, dengan BPBD Jawa Tengah menduga pembakaran liar yang disengaja. Di Boyomoute, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, sekitar 10 hektare terbakar dan padam pukul 17.20 WITA tanpa korban jiwa.



