M
MERAMUGagasan, kultur, cerita — diramu jadi satu.
← Beranda
Berita Umum

Prabowo dan PM Singapura: Bukan Foto Jabat Tangan Baru, tapi "Komunikasi Tingkat Tertinggi"

Redaksi Meramu•30 Oktober 2026•3 Menit Baca
Prabowo dan PM Singapura: Bukan Foto Jabat Tangan Baru, tapi "Komunikasi Tingkat Tertinggi"
Presiden Prabowo Subianto dan PM Singapura Lawrence Wong dalam pernyataan pers bersama.

Tidak ada foto jabat tangan baru pekan ini, tapi Menlu Singapura memastikan komunikasi telah berlangsung di tingkat tertinggi antara PM Lawrence Wong dan Presiden Prabowo, dengan Joint Task Force dan hotline baru untuk kabut asap.

Kalau lu cari foto Prabowo dan PM Lawrence Wong berjabat tangan minggu ini, bakal zonk. Yang ada justru pernyataan Menlu Singapura soal komunikasi antara dua pemimpin — dan itu cukup buat bikin hubungan RI–Singapura jadi sorotan.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan berkunjung resmi ke Jakarta 27–29 Oktober. Selasa dia bertemu Menlu RI Arrmanatha Nasir, Rabu dia menemui Prabowo di kediaman presiden di Hambalang, Bogor.

Di hari yang sama, Vivian memastikan: "Komunikasi telah berlangsung di tingkat tertinggi antara perdana menteri kami dan Presiden Prabowo."

Isinya apa?

Vivian menyebut komunikasi itu menghasilkan komitmen politik kedua pihak untuk melakukan apa yang diperlukan mengatasi persoalan bilateral, termasuk kabut asap. Tapi dia tak merinci isi pembicaraan kedua pemimpin.

Yang konkret dari kunjungan ini: Indonesia dan Singapura membentuk Joint Task Force untuk mengoordinasikan penyelidikan perusahaan yang diduga terkait karhutla, plus hotline langsung untuk menangani perbedaan pandangan antar kedua negara.

Asap, gas, dan dua negara yang saling butuh

Latar belakangnya panas. Sejak 24 Oktober, Indonesia mengurangi ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 BBTUD. Menko Bahlil Lahadalia bilang pemangkasan itu masih dalam batas kontrak. PM Wong merespons: semua pihak yang terikat kontrak komersial harus memenuhi komitmennya.

Di sisi lain, otoritas lingkungan Singapura sudah melayangkan preventive measure notices ke tujuh perusahaan di Sumatera, dan memperluas penyelidikan ke sepuluh perusahaan yang terdaftar di Singapura. Undang-undang kabut asap lintas batas mereka mengancam denda sampai S$100 ribu per hari — meski belum ada sanksi yang dijatuhkan.

Retorika kedua pejabat justru sejuk. Arrmanatha menyebut penanganan kabut asap sebagai "prioritas nasional utama" Prabowo: "Tidak boleh ada perbatasan yang melindungi pihak-pihak yang meraup keuntungan dari pembakaran hutan kita."

Vivian menyambung: El Nino fenomena alam, tapi kabut asap bukan. "Kebakaran hutan dan lahan disebabkan aksi manusia."

Kenapa ini penting buat kita

Kabut asap bukan abstraksi diplomasi. Dia yang bikin ISPA, sekolah libur, dan biaya kesehatan naik di Sumatra dan Kalimantan. Di sisi lain, gas adalah soal harga energi dan daya saing industri.

Dan soal "bertemu": pertemuan tatap muka terakhir adalah Leaders' Retreat 6 Juli 2026 di Istana Merdeka, yang menghasilkan 26 kesepakatan. Untuk pekan ini, yang terverifikasi adalah komunikasi tingkat tertinggi — bukan foto jabat tangan baru.

Sumber fakta: CNA Indonesia (pernyataan Menlu Singapura soal komunikasi tingkat tertinggi, pemangkasan ekspor gas 31 BBTUD, 29 Okt 2026) dan Kompas.com (pernyataan Vivian soal masa depan RI-Singapura, 28 Okt 2026; respons PM Wong atas pemangkasan gas & 26 kesepakatan Leaders' Retreat, 25-28 Okt 2026); Republika (pertemuan Vivian-Prabowo di Hambalang, 28 Okt 2026); Kumparan (preventive measure notices NEA & penyelidikan 10 perusahaan, Okt 2026).

Foto: BPMI Setpres via Wikimedia Commons (domain publik)

← Kembali ke Beranda