Satu postingan Threads lagi viral. Dua foto perempuan muda berhijab yang sedang orasi di tengah demo, dengan caption memuji perempuan-perempuan hebat yang berada di garda terdepan. 26 ribu likes, 5,2 ribu repost — dan postingan itu cuma satu potongan kecil dari gambaran yang lebih besar.
Karena di gelombang protes Oktober ini, perempuan memang bukan sekadar penonton. Mereka ada di semua lini: di podium orasi, di barikade, sampai di posko logistik.
Di Podium Orasi
Di Bundaran HI pada 28 Oktober, seorang orator perempuan berjilbab menyampaikan orasi yang dikutip media: negara dinilai sangat tidak berpihak kepada rakyat, dan massa datang untuk menuntut hak-hak masyarakat.
Di aksi yang sama, Shalima Hakim juga naik orasi. Putri Wanda Hamidah itu, 24 tahun dan lulusan Fakultas Hukum UGM, berbicara dengan penuh semangat sampai sempat terisak — mendesak Presiden segera menangani kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra bercerita sempat dihadang aparat saat hendak menuju titik kumpul di HI. Menurut ceritanya, aparat menyatakan akses ke kawasan itu harus seizin pihak yang menguasai wilayah, yakni TNI.
Di Barikade
Wajah lain datang dari perempuan berjaket kuning di barikade Sudirman, 28 Oktober. Ia berteriak ke arah polisi agar memberi jalan bagi demonstran, membela mahasiswa yang disebutnya tanpa senjata.
"Hei, polisi-polisi, dengar, ya. Pemerintah pusat, dengarkan, ini tanah milik rakyat!" teriaknya, seperti dikutip dari pantauan di lokasi.
Di Lini Belakang
Wanda Hamidah sendiri turun dengan poster bertuliskan "Silence is Violence". Di belakang massa, Zaskia Adya Mecca bergabung dengan posko relawan ibu-ibu, memastikan pasokan medis dan kebutuhan dasar demonstran tetap jalan.
Dan gelombang ini berlanjut ke hari ini, 29 Oktober. Koalisi Nasional Perempuan Indonesia menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR, dengan sekitar 20 peserta.
Kenapa Ini Penting
Postingan viral itu sendiri tidak menyebut nama perempuan di fotonya — jadi artikel ini tidak mengklaim foto tersebut adalah salah satu nama di atas. Yang jelas, nama-nama yang terdokumentasi di berita membuktikan satu hal: di gelombang protes Oktober, perempuan ada di depan, bukan di belakang.
Bukan cuma soal jumlah. Tapi soal siapa yang berani pegang mikrofon pertama, siapa yang berani berdiri di barikade, dan siapa yang memastikan pergerakan tetap hidup dari posko.
Sumber fakta: KapanLagi (29 Okt 2026); Kedaipena (28 Okt 2026); Kompas.com via infonasional.com dan lensahukum.co.id (28 Okt 2026); ruang.id (28 Okt 2026); mediadelegasi.id dan ketik.com (29 Okt 2026); Threads @andi_irwannn (29 Okt 2026, untuk postingan viralnya).



