M
MERAMUGagasan, kultur, cerita — diramu jadi satu.
← Beranda
Ekonomi Kreatif

WCCE 2026 Kelar di Jakarta, Ini 3 Hal yang Bakal Ngaruh ke Kreator Muda Indonesia

Redaksi Meramu•29 Oktober 2026•4 Menit Baca
WCCE 2026 Kelar di Jakarta, Ini 3 Hal yang Bakal Ngaruh ke Kreator Muda Indonesia
Foto: yohanes budiyanto / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

WCCE 2026 ditutup di Jakarta dengan tiga inisiatif baru — data, outlook, dan akademi — yang bakal ngaruh ke kreator muda Indonesia.

Jakarta baru saja jadi panggung dunia buat ekonomi kreatif. World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 resmi ditutup pekan lalu — dan buat kreator muda Indonesia, hasilnya bukan sekadar seremoni.

Forum edisi kelima ini digelar 21–23 Oktober 2026 di Jakarta, mengusung tema "Inclusively Creative: Collective Continuity". Skalanya nggak main-main: lebih dari 82 negara, tujuh organisasi internasional, 38 kepala delegasi, 183 pembicara dan moderator, serta 7.639 peserta.

Bahkan Creative Village di kawasan SCBD dikunjungi lebih dari 20.000 orang. Dan biar nggak cuma jadi obrolan ruang konferensi, ada WCCE Weekland di SCBD Park pada 24–25 Oktober — dua hari perayaan kreativitas lokal yang terbuka buat publik, dengan 88 booth brand dan bisnis kreatif. Sebagai gambaran, ekonomi kreatif Indonesia pada 2025 tumbuh sekitar 6,8 persen dan menopang 27,4 juta pekerja.

Tiga Jurus Penutup: Data, Outlook, Akademi

Penutupan di Hotel Kempinski Jakarta pada Jumat (23/10) melahirkan tiga inisiatif. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut ketiganya bakal mengubah pengetahuan jadi aksi.

Pertama, Creative Economy Data Model (CEDM), disusun bareng World Intellectual Property Organization (WIPO). Model ini memetakan ekosistem ekonomi kreatif dari tiga sisi: lingkungan berkarya, sumber daya pendukung, dan nilai kreatif.

Cakupannya luas: dari kekayaan intelektual, tata kelola, kondisi sosial-budaya, infrastruktur, pembiayaan, pasar, sampai kontribusi sosial-ekonomi. Singkatnya, kerja kreatif akhirnya punya peta data yang serius.

Kedua, Indonesia Creative Economy Outlook 2026–2027, digarap bareng Katadata. Publikasi ini jadi referensi data dan panduan strategis — mulai dari transformasi digital, pemanfaatan AI, ekonomi berbasis kekayaan intelektual, sampai potensi daerah.

Ketiga, Ekraf Academy. Program ini fokus mengasah skill pekerja kreatif lewat pelatihan yang nyambung sama kebutuhan industri. Pengembangannya melibatkan Indonesia Creative Cities Network (ICCN), asosiasi, lembaga sertifikasi profesi, dan 30 universitas.

Budaya Bukan Beban, Tapi Modal

Di sesi pleno, Menteri Kebudayaan Fadli Zon bawa pesan yang tajam: budaya bukan pos biaya dalam belanja negara, melainkan modal produktif. Di balik setiap produk kreatif — film, musik, kriya, konten digital — ada ekosistem budaya yang luas.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara peradaban: lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan ribuan objek pemajuan kebudayaan. Dari situlah lahir idenya soal "ekonomi budaya sirkular": budaya menginspirasi inovasi, inovasi menghasilkan nilai ekonomi, dan hasilnya kembali menopang komunitas budaya serta kreator generasi berikutnya.

Buat nguatin itu, Kementerian Kebudayaan main di tiga level. Hulu: melindungi warisan dan mendokumentasikan pengetahuan tradisional buat generasi muda.

Tengah: mengembangkan talenta lewat program Manajemen Talenta Nasional dan Dana Indonesiana. Hilir: memperluas distribusi karya, festival internasional, dan diplomasi budaya.

Nggak sendirian, 35 kementerian dan lembaga juga lagi menyiapkan peta jalan ekonomi kekayaan intelektual. Tujuannya satu: memastikan kreator dan pelaku usaha benar-benar merasakan manfaat ekonomi dari karya mereka, bukan cuma soal proteksi hak.

Terus, Apa Artinya Buat Lo?

Buat kreator muda, pesannya jelas. Pertama, karyamu makin terukur — data dan outlook bikin industri kreatif dibaca serius sebagai sektor ekonomi, bukan sekadar hobi.

Kedua, ada jalur peningkatan skill yang nyambung ke industri lewat Ekraf Academy. Dan ketiga, budaya lokal bukan sekadar identitas — ia modal yang bisa diolah jadi nilai ekonomi, asal ekosistemnya dijaga dari hulu sampai hilir.

WCCE 2026 boleh sudah kelar, tapi kerja rumahnya baru mulai. Tinggal kita lihat: inisiatif-inisiatif ini bakal benar-benar nyampe ke kreator di daerah, atau berhenti di dokumen.

Sumber fakta: ANTARA (penutupan WCCE + 3 inisiatif, 23 Okt 2026; pidato Fadli Zon, 24 Okt 2026) dan EKRAF Hub (Weekland).

← Kembali ke Beranda