Melbourne, Meramu — Video aksi di Melbourne viral di Threads. Netizen Indonesia heboh, ada yang nanya kapan Tokyo nyusul, ada yang bilang demokrasi nggak kenal batas negara. Tapi ada satu hal yang kelewat dari keramaian itu: video yang viral itu bukan aksi baru.
**Yang Viral Itu Aksi 22 Oktober**
Aksi yang terekam itu terjadi Kamis, 22 Oktober 2026, di depan State Library Victoria, Melbourne. Puluhan orang berbaju hitam berkumpul di sore hari, membentangkan spanduk "AKSI KAMISAN MELBOURNE #MenolakLupa".
Tuntutan mereka spesifik dan kekinian: karhutla dinyatakan bencana nasional, korporasi dan pemerintah dimintai tanggung jawab, dan izin perusahaan perusak lingkungan dicabut. Papan-papan yang mereka bawa bertuliskan "I CAN'T BREATHE", "Our Home is Burning", dan "NO FREEDOM IN BURNING LAND".
Di balik spanduk itu ada kolektif **Melbourne Bergerak** — mahasiswa, pekerja, dan akademisi Indonesia yang tinggal di Melbourne. Salah satu pesertanya mahasiswa asal Pekanbaru, Riau. Buat dia, kontrasnya terasa personal: langit Melbourne yang biru, sementara kabut asap mampir ke kampungnya hampir tiap tahun.
**Bukan Gerakan Kemarin Sore**
Melbourne Bergerak lahir 23 Agustus 2024, di tengah gelombang Peringatan Darurat — waktu itu sekitar 100 orang berkumpul di University of Melbourne, lalu long march ke KJRI tiga hari kemudian.
Gerakannya membesar setelah Agustus 2025: sekitar 400 orang memenuhi Federation Square pada awal September 2025, menyusul kematian pengemudi ojol Affan Kurniawan. Sebulan kemudian, mereka menggelar "Vigil for the Disappeared" di State Library, 27 September 2025.
**Akarnya dari Jakarta, Bentuknya Beda**
Ritmenya memang meniru Kamisan Jakarta: tiap Kamis, baju hitam, dan tagar #MenolakLupa. Kamisan Jakarta sendiri sudah jalan sejak 18 Januari 2007, tiap Kamis jam 16.00 di depan Istana Merdeka, digerakkan keluarga korban yang menuntut penyelesaian kasus 1965-66, Trisakti dan Semanggi 1998, penghilangan paksa 1997-98, pembunuhan Munir 2004, dan kasus Papua.
Bedanya, Melbourne Bergerak adalah jaringan solidaritas diaspora, bukan cabang resmi dari jaringan Jakarta. Tuntutannya pun lebih luas dan mengikuti isu yang sedang berjalan — kali ini karhutla, yang sudah membakar sejak Agustus, terutama lahan gambut Kalimantan dan Sumatera.
**Terus yang 29 Oktober Itu Apa?**
Yang terjadwal pada 29 Oktober bukan aksi jalanan, melainkan panel diskusi indoor bertajuk "AKSI KAMISAN MENGGUGAT!" di University of Melbourne, dengan pembicara Vedi Hadiz, Okky Madasari, dan Rhys Soesetio, dipandu jurnalis ABC Hellena Souisa. Bersamaan dengan itu, mereka membuka galang dana pemadaman karhutla untuk Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua, sampai 15 November 2026.
Hasil panelnya sendiri belum ada laporan lanjutannya. Yang jelas, ritme Kamisannya jalan terus — dan video dari Melbourne itu sudah terlanjur sampai ke beranda Indonesia.
Sumber: Indonesia at Melbourne; Farrago; Instagram @melbournebergerak; video yang beredar di Threads; Wikipedia (Aksi Kamisan).



